Senin, Juli 25, 2011

.:bahaya Su'udzon:.

Tapak tilas hari ini...
serachingsearching di lipi.go.id,eh nemu pojok muslimm..nyontek ahh walaupun udah juaduullll bgt,>,<
 
Dari segi agama, berprasangka buruk adalah sesuatu yang dilarang. Bahaya lain selain dosa yang kita dapatkan, dengan prasangka buruk malah akan menambah buruk keadaan, membuat motivasi turun, dan menghalangi jalan kita menuju keberhasilan. Oleh karena itu mulai sekarang, marilah kita kurangi prasangka buruk terhadap sesama, termasuk untuk diri saya sendiri.

Dari segi agama, berprasangka buruk adalah sesuatu yang dilarang. Bahaya lain selain dosa yang kita dapatkan, dengan prasangka buruk malah akan menambah buruk keadaan, membuat motivasi turun, dan menghalangi jalan kita menuju keberhasilan. Oleh karena itu mulai sekarang, marilah kita kurangi prasangka buruk terhadap sesama, termasuk untuk diri saya sendiri.

Mungkin kita akan mengatakan bahwa yang kita lakukan bukanlah prasangka buruk, Anda akan menunjukan segudang bukti tentang keburukan orang lain. Namun bisa saja keburukan orang lain itu berkat diri kita sendiri juga. Menurut Hukum Daya Tarik, pikiran kita akan menarik berbagi hal yang kita pikirkan. Jika kita pikirkan tentang keburukan seseorang, maka kita secara tidak sadar menarik berbagai keburukan lagi.

Mulailah berpikir positif terhadap orang lain, yaitu dengan berprasangka baik. Anda akan menemukan keajaiban bahwa kita juga akan melihat segudang bukti kalau orang tersebut memang baik. Dengan berprasangka baik kita akan menarik hal-hal yang baik dari orang tersebut. Bayangkan jika kita selalu berprasangka baik terhadap orang-orang yang ada di sekitar kita, maka kita akan dikelilingi oleh orang-orang yang baik.

Bagaimana jika orang yang sangka buruk sikapnya tersebut benar-benar buruk? Tidak jadi masalah. Hukum Daya Tarik mengatakan bahwa pikiran kita akan menarik hal-hal yang sama, mirip, atau berkaitan dengan apa yang ada di pikiran kita. Berarti hal-hal yang bertentangan akan menjauh dari kita. Jika kita dikelilingi oleh orang yang buruk akhlaqnya, maka kita harus instropeksi, jangan-jangan kita juga bagian dari mereka.

Jadi, jika demikian, mulai sekarang mari kita perbaiki akhlaq kita semua. Dimulai dengan berprasangka baik terhadap orang lain. Kita akan berkumpul dengan orang-orang baik dan insya Allah kita akan tertular menjadi orang yang baik. Termasuk juga anggaplah orang lain kaya, jangan sebaliknya, sebaliknya kita berprsangka orang lain itu miskin dan menjadi beban. Mudah-mudahan kita juga menarik orang-orang kaya dan kita tertular menjadi kaya.

Ada seseorang yang bertanya kepada Anthony Robbins, mengapa saya Cuma berpenghasilan 1 juta dolar pertahun, sedangkan Anda berpenghasilan puluhan juta (ini adalah perbincangan orang-orang kaya). Anthony Robbins, menjawab, penghasilan Anda tergantung dengan siapa Anda berteman. Penghasilan Anda adalah rata-rata orang-orang yang memiliki pengaruh kuat terhadap Anda.

http://www.motivasi-islam.com

Senin, Juli 18, 2011

.:13 kata "JANGAN" yg harus dihindari:.

Tapak tilas hari ini...
1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka
kamu kian bahagia.

2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka
kamu semakin kaya.

3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka
kamu akan termotivasi.

4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah
dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan.

5. Jangan menunggu orang memahami kamu baru kamu memahami dia,
tapi pahamilah orang itu, maka orang itu paham dengan kamu.

6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis. tapi menulislah, maka inspirasi
akan hadir dalam tulisanmu.

7. Jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi berkerjalah, maka proyek
akan menunggumu.


8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai, maka
kamu akan dicintai.

9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan
tenang. Percayalah,. bukan sekadar uang yang datang tapi juga rejeki
yang lainnya.

10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah,
maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.

11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur. tapi bersyukurlah, maka
bertambah kesuksesanmu.

12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah! Kamu pasti bisa!

13. Jangan menunggu Takdir yg kau impikan, tapi Berbuatlah untuk mbuat impian Takdir tsb. Mskpun kt tdk tau apa tkdir Diri kt Sndiri.

.:Sekolah untuk Apa?:.

Tapak tilas hari ini...
Sebuah artikel Ketua Program MM-UI, Prof. Rhenald Kasali. Semoga tergugah.


Salam,

Sekolah untuk Apa?
...
Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak
mencari sekolah.Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati.
Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata
banyak yang “salah kamar”.

Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam
perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan
yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN)
masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di
mana saja.

Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi
sarjana, bahkan masuk program S-2. Jadi birokrat atau jenderal pun
sekarang banyak yang ingin punya gelar S- 3. Persoalan seperti itu
saya hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi
masalah hari ini.

Sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya. Mengapa hanya soal
memindahkan anak ke sekolah negeri lain saja lantaran pindah rumah
biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang
kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan
tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.

Lengkap sudah masalah kita. Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan
untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat
sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk
apa di negeri yang serbasulit ini?

Kesadaran Membangun SDM

Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, Perdana Menteri (PM)
Malaysia Mahathir Mohamad sadar betul pentingnya pembangunan sumber
daya
manusia (SDM). Dia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar
S-2 dan S-3 ke berbagai negara maju.

Hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai 10 tahun,lulusan terbaik
itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya Anda bisa lihat
sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula
perusahaan swasta dan birokrasinya. Perubahan bukan hanya sampai di
situ.

Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform
sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old
ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis,serta
peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai
ditinggalkan.

Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan
seterusnya.Tak mengherankan kalau sekolahsekolah di berbagai belahan
dunia pun mulai berubah. Di negeri Belanda saya sempat
terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal
Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa.

“Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak,
jadi mereka yang mendaftar harus kami terima,” ujar seorang dekan di
Erasmus.
Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk
mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik.

Seleksinya sangat ketat. Lantas bagaimana membangun bangsa dari
lulusan yang asal masuk ini? “Mudah saja,” ujar dekan itu. “Kita
potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi
sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua
orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan
berbeda,”ujarnya.

Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di Selandia Baru. Meski
murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA,
angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi.Mereka pindah ke
politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah. Yang lebih mengejutkan
saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di tingkat SLTA di
Selandia Baru.

Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam 10
besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan
waktu beberapa hari untuk mewawancarai lulusan sekolah itu
masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan
mengintip bagaimana pelajaran diajarkan.

Di luar dugaan saya,pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.
Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah
kita yang terlalu kognitif, dengan guruguru yang merasa hebat kalau
muridnya bisa dapat nilai ratarata di atas 80 (betapapun stresnya
mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif, namun
tak menguasai semua subjek.

Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan
kemampuan mengopi isi buku dan catatan. Entah di mana keguruan itu
muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita
mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan
bebek-bebek dogmatik.

Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar
negeri,mungkin guru-guru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus.
Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta
transkrip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah
terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang
baik di luar negeri.

Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? “Undang-undang menjamin
semua orang punya hak yang sama untuk belajar,” ujar seorang guru di
Selandia Baru. Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan input-nya?
“Itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya,” ujar putra sulung saya
yang kuliah di Auckland University tahun ketiga.

Maksudnya,tes masuk tetap ada,tetapi hanya dipakai untuk penempatan
dan kualifikasi. Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil
dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu Matematika dan Bahasa
Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori:
akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan.

Sekolah dilarang hanya menerima anakanak bernilai akademik tinggi
karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak,
khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati.
Mereka hanya super di kedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur.

Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya
diberikan secara kognitif. Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran
pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masingmasing.
Bagi mereka yang bercita- cita menjadi dokter, biologi dan ilmu kimia
wajib dikuasai.

Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia.
Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting,
statistik,dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu
belajar biologi dan fisika. Beda benar dengan anak-anak kita yang
harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan
semuanya diwajibkan lulus di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Bayangkan, bukankah citacita pembuat kurikulum itu orangnya hebat
sekali? Mungkin dia manusia super.Seorang lulusan SLTA tahun pertama
harus menguasai empat bidang sains (biologi,ilmu kimia, fisika, dan
matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris, dan satu
bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama,
geografi, kesenian, olahraga, dan komputer.

Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat
menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek,
dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Seperti
kurikulum program S-1 20 tahun lalu yang sejajar dengan program S-1
yang digabung hingga S-3 di Amerika.

Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga
tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor
menyelesaikan di atas 100 SKS, sehingga hampir tak ada yang lulus.
Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun. Anda bisa saja
mengatakan, dulu kita juga demikian, tapi tak ada masalah kok!

Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah.
Teknologi telah mengubah banyak hal, anakanak kita dikepung informasi
yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, tapi datang dengan
lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, melainkan dari
segala resources.

Ilmu belajar menjadi lebih penting dari apa yang dipelajari itu
sendiri,sehingga diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu
pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk
dihafalkan, tetapi
guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, lifelong learning.

Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West
Lake Boys School di Auckland mengatakan, “Kami sudah meninggalkan old
ways teaching sejak 10 tahun lalu. Maka itu, sekolah sekarang harus
memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi
banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah,metode
diperbarui,fasilitas baru dibangun,” ujar seorang guru.

Masih banyak yang ingin saya diskusikan,tapi sampai di sini ada
baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah
dan untuk apa kita bersekolah? Mudahmudahan kita bisa mendiskusikan
lebih dalam minggu depan dan semoga anak-anak kita mendapatkan masa
depan yang lebih
baik.

RHENALD KASALI Ketua Program MM UI
 
Cafe of life Blogger Template by Ipietoon Blogger Template