Senin, Agustus 27, 2012

.:Masa Pengenalan "Adik" di Departemen Part-1:.

Social gathering perkenalan departemen angkatan bawah gw, seru loh.
     Assalamualaikum wr.wb.. Gutte nacht mina!! Lama tidak menulis di sini.. haha,,males tingkat dewa udahan,ckckckck..Ingin share sesuatu nih dari cerita teman yg unyu-unyu punya.. Mungkin agak garing, tapi yah wish that this story still have maybe just a little bit benefit for you..
     Tonight, after back from dinner with anggota Pinus Merkusii (nama keluarga di kelas,haha) shalat magrib langsung deh nimbrung bersama personil rumah pelangi (nama kontrakan,*tanpa persetujuan ini namanya,hahaa). Awalnya kita adalah SNSD versi BALIO,hahaha soalnya serumah ada 9 orang dan pas urut demi urut berdasarkan ke-tuaan akhirnya ternobatkanlah gw sebagai Yoona,hahaha..*bayangin aja.. oke, gak nyambung, bt3 *back to the topic..Sekarang personil tinggal 6 orang dan 2 orang yang memulai kocokan perut ini berasal dari fakultas yang sama dan baru pulang dari kegiatan perkenalan di departemen masing- masing.
Foto masa perkenalan kampus angkatan gw 2010
    Inti cerita sih sebenarnya sama aja, adik- adik itu ada yang merasa tidak atau kurang setuju dengan kegiatan perkenalan yang seperti sekarang ini. Entah kenapa padahal kita udah membuatnya sebaik mungkin sejak masa perkenalan kampus tanpa beban yang seperti angkatan gw alami karena memang sudah ada mandat dan peraturan dari pusat *rektorat dan dekanat* mengenai kegiatan ini.
     Oke fine, jadi kemarin (26/8), katanya nih pas lagi kegiatan perkenalan fakultas ada adik yang try to fix her hair, mungkin karena gerah atau apa kite kagak paham pokoknya intinya dia gerah gitu kayaknya. Terus kan panitia yang mengurus kedisiplinan melihat nametag yang dipake adiknya dan bilang, 
" Kalau sakit ke belakang aja dik" 
yah tau lah ya dengan gaya biasa dengan mengerling biasa ke sang adik juga. Ehh, gad dalang ga ada sutradara dia action, 
" Saya itu capek kak, saya lelah". 
Dan panitia yang empunya kegiatan pun datang, " Ada apa dik?" 
padahal nadanya biasa aja loh, nada perhatian *wajarlah cowok ke cewek,hehehe*. Sang adik langsung action lagi, gw g paham padahal anak IPB gad yg mengakui bahwa dirinya adalah dalang atau Sutradara atau apalah itu namanya yang suka ngatur pemain gitu.
" Saya itu sudah capek kak. Saya sudah lelah dengan semua ini. Kenapa kami harus diginiin??"
" Loh, saya tidak tahu apa- apa, mungkin bisa ditanyakan ke kedisiplinan" kata sang kakak panitia itu.
" Pokoknya saya gak kuat kak, saya capek" dengan nada yang cukup tinggi
Sang panitia empunya acara ini pun geram lah ya, wong ditanya baik- baik, diajak baik- baik malah ni orang begono, protes keras
" Ya!! Tapi ga usah keras juga donk nadanya, saya sudah tanya baik- baik malah gini!"
Dan apa yang terjadi saudara- saudara.... sang adik langsung melengos pergi keluar arena kegiatan. Yah bayangin aja kayak di sinetron- sinetron habis mewek terus pergi, yah ibaratin ajalah yahh. Apa kabar perasaan si kakak ya tau ada adegan sinetron gitu di depan mata, bwahahaha...

     Oke, ini hanya sedikit intermezoo tentanng apa yang terjadi antar generasi yang mmm bisa buat lelucon atau hikmah dan pelajaran, everything you could take them yourself from your point of view.. *halah bahasa apa ini*.. Tunguu cerita selanjutnya, *kalau lanjut,hahaha..

     Wassalamualaikum wr.wb

Rabu, Mei 16, 2012

.:Antara Ikhlas dan 'Paksaan' dalam Menghadapi Musibah:.

Hmm..setiap orang pasti pernah mendapatkan musibah, entah kecil-sedang-besar.. Datangnya selalu tak terduga dan kadang tidak kita harapkan namun nyata terjadi pada diri kita. Sulit untuk mengikhlaskan walaupun orang- orang sudah membantumenyemangati kita.. Today, i'll share an entry about it from the other blog.. Check this out guys..
 
Musibah merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Silih berganti datang, bagaikan sapuan kuas warna-warni yang mengisi lukisan kehidupan. Begitulah adanya musibah, dan begitulah sunnatullah yang berlaku, sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya:

 ”Sungguh, Kami pasti akan mengujimu dengan sebagian dari rasa takut, lapar, serta kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan..”(Al-Baqarah:155).
Musibah merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Silih berganti datang, bagaikan sapuan kuas warna-warni yang mengisi lukisan kehidupan. Begitulah adanya musibah, dan begitulah sunnatullah yang berlaku, sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya:

 ”Sungguh, Kami pasti akan mengujimu dengan sebagian dari rasa takut, lapar, serta kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan..”(Al-Baqarah:155).

Namun, bukanlah sikap yang bijak jika kita menyikapi setiap musibah yang datang dengan cara-cara jahiliyah, menangis meraung-raung, memaki diri dan orang lain, atau bahkan sumpah serapah yang tak sopan dan tak perlu. Sebab, semua itu tidak akan mengurangi kadar musibah, dan justru menambah berat beban perasaan kita sendiri. Apalagi jika disertai ‘tuduhan’ dan persangkaan buruk terhadap kehendak Allah.

Musibah juga kerap kali membuat seseorang begitu frustasi, seakan dunia sudah berakhir, dan tak jarang berakhir dengan usaha bunuh diri, wal iyadzu billah. Stres dan depresi yang melanda, jika tak diiringi benteng iman yang kokoh, memang bisa melahirkan atraksi bunuh diri. Beberapa artis barat, yang notabene berlimpah materi, berakhir mengenaskan seperti ini.

Sebagai seorang muslimah, yang merupakan taman tarbiyah bagi generasi penerus, sikap seperti itu tentunya perlu dibuang jauh-jauh dari kamus kehidupan. Maka, sabar menjadi perisai yang ampuh ketika menghadapi musibah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

”…Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (Sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kita kembali). Mereka itulah yang rnmendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Al-Baqarah: 155-157)

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, seorang ulama yang karya-karyanya banyak berbicara masalah hati, membahas lebih jauh terapi penghilang duka lara dalam buku beliau. Buku rnyang oleh penerbit dan penerjemahnya diberi judul ‘Meredam Duka Saat Menghadapi Musibah‘ ini banyak memberikan kiat dan terapi agar kita terhibur dan tidak larut dalam kesedihan yang panjang.

Hal pertama yang patut kita sadari, sebagai terapi yang paling mujarab, adalah bahwa kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah, sebagaimana yang ditunjukkan dalam ayat di atas. Keyakinan tersebut mempunyai dua prinsip agung, yang jika seorang hamba benar-benar memahami kedua prinsip tersebut, maka ia akan terhibur dari musibah yang menimpanya. Ibnul Qoyyim menjabarkan  dua prinsip tersebut sebagai berikut,

Pertama, bahwa seorang hamba beserta keluarga dan hartanya benar-benar merupakan milik Allah subhanahu wa ta’ala. Milik Allah itu telah diserahkan kepada hamba sebagai pinjaman, maka jika Allah mengambil kembali pinjaman itu darinya, kedudukannya seperti pemberi pinjaman yang mengambil barang yang dipinjam. Keluarga dan hartanya itu selalu berada di antara dua ketiadaan, yaitu ketiadaan sebelumnya dan ketiadaan sesudahnya. Kepemilikan hamba terhadapnya hanyalah kesenangan yang dipinjamkan dalam jangka waktu sementara. Hamba bukanlah yang mengadakannya dari ketiadaan, sehingga tidak bisa menjadi pemiliknya secara hakiki. Hamba juga tidak bisa menjaganya dari berbagai bencana setelah ia ada. Juga tidak bisa mengekalkan keberadaannya.

Jadi, seorang hamba sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadapnya, tidak memiliki secara hakiki. Bahkan, ia hanya dapat menggunakannya dalam batas wewenang seperti seorang budak yang diperintah dan dilarang, bukan sesuka hatinya seperti wewenang seorang pemilik. Karena itu, seorang hamba tidak boleh melakukan tindakan terhadapnya kecuali sesuai dengan perintah Pemilik yang hakiki.

Kedua, tempat kembali seorang hamba adalah Allah, tuannya yang sejati. Ia pasti meninggalkan dunia di belakangnya dan menghadap kepada Rabbnya seorang diri, sebagaimana ketika pertama kali ia diciptakan-Nya, tanpa ditemani oleh keluarga, harta, atau kerabat, melainkan hanya ditemani oleh amal kebajikan dan amal kejahatan. Bila demikian asal muasal seorang hamba, apa yang ditinggalkannya dan akhir hidupnya, bagaimana ia bisa bergembira dengan sesuatu yang ada atau berduka atas sesuatu yang tiada? Jadi, berpikir tentang asal muasal dan akhir kehidupan, merupakan terapi paling mujarab terhadap penyakit ini.

Pemahaman lain yang perlu kita yakini adalah bahwa apa pun yang ditakdirkan menimpa kita, tidak mungkin untuk dihindari, sebaliknya apa pun yang tidak ditakdirkan terluput dari kita, tidak mungkin menimpa kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

”Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Al-Hadid: 22-23).

Beliau, Ibnul Qoyyim, juga memberikan terapi dan kiat lainnya untuk meringankan dan menghilangkan duka akibat musibah yang menimpa. Beliau juga mengetengahkan teladan Rasulullah dalam menghadapi kesulitan, kecemasan, dan kesedihan.

Kapasitas penulisnya, membuat ukhti tidak perlu ragu lagi untuk memiliki atau paling tidak membaca buku yang diterbitkan oleh Penerbit Al-Qawam setebal 92 halaman ini. Buku ini cukup tipis, dan dapat dibawa ketika ukhti bepergian, tentu saja untuk dibaca, direnungkan, dan terutama diamalkan isinya.

Semoga bermanfaat.

Sumber : http://jilbab.or.id/archives/234-meredam-duka-saat-menghadapi-musibah/

Minggu, April 22, 2012

-Iklan 'Cantik'?-

     Iklan- iklan yang mengumbar perempuan- perempuan seksii dan cantik (putih) dengan pakaian seksi, *ooppss maaf maksudnya bajunya kurang sopan, saat ini buaanyaaak banget mengisi layar TV kita.. Ga' cuman jadi 'seru- seruan' aja dalam iklan, malahan dijadikan hadiah untuk suatu produk tetentu.. Yah walaupun bukan wanitanya yg langsung jd hadiah sihh, cuman saat pengiklanannya itu kesannya 'gimaaanaaa' gitu.. Ga' ilok kata orang Jawa bilang. Iklan tersebut membuat ide bahwa setiap promosi harus di'lengkapi' dengan perempuan- perempuan cantik yang identik dengan putih, semampai (*bukan semeter tak sampai lohh), seksi, waoooo..
     Padahal kalau kita backpackeran nih ke wilayah timur kita (*Papua dan sekitarnya) mereka itu cnatik lohh.. dengan mata yang indah, warna kulit yang eksotis, alami banget dahhh.. Pria ohh priaa,ckckck.. Mamak- mamak di Sumatera bahkan di Arab sono justru beranggapan bahwa big is beautifull ^^, yang cantik itu justru yg berbadan besar,hohoho...

     Usaha pemerintah, semacam RUU pornografi atau apalah yang lain namanya itu jadi ga' ada gunanya kalau iklan yang notabene sering muncul di TV berkali- kali telah me-mind set  masyarakat kayak gitu... Semuanya harus diperketat kembali mengenai iklan yang boleh muncul mana yang tidak, iklan yang hanya boleh tayang pada jam- jam tertentu saja, dan lain sebagainya..

     Misalnya saja iklan pemutih wajah yang ada adegan berpacaran, atau ada adegan yang nyaris berciuman.. Itu g' layak buat dilihat anak kecil, apalagi tayang berkali- kali diwaktu pagi,siang, dan sore hari yang notabene anak- anak masih aktif (*tidak sedang tidur malam). Kita sebagai perempuan harus ditinggikan, #eaaaa,, Jangan mau direndahkan dengan cara- cara globalisasi seperti iklan 'cantik' seperti itu.. Padahal jaman udah maju, tapi teknologi "kurang" dimanfaatkan untuk menghargai wanita.. Mana yang katanya emansipasi dan Penghormatan terhadap wanita???
     Perempuan, sedikit mengutip dari hasi Launching Forum Perempuan IPB 2012, perempuan berasal dari kata dasar "empu" yang berarti ahli... Wihhh, subhanallah sekali lohhh yaaa... Kita adalah seorang lagi.. Ingatkah juga kita bahwa perempuan adalah tiang negara, bila perempaun di negara tersebut baik, maka baiklah negara ini. Ada pepatah lain yang mengatakan bahwa,
"Apabila kamu mendidik seorang pria, kamu hanya mendidik satu orang saja. Namun jika kamu benar dalam mendidik seorang wanita, maka sama halnya kamu mendidik beberapa generasi "

Mari Menjaga Diri dan Tingkatkan Diri Untuk Kebaikan Keluarga, (calon) Suami, Anak, bahkan Negara.. Jiayo Perempuan Indonesia!!

Dedikasi untuk hari Kartini, Sang Ibu Penerang Jiwa
 
Cafe of life Blogger Template by Ipietoon Blogger Template